Riwayat Buntet, Pesantren dan Tragedi Sumpah Pemuda

 

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

  ♛ barb3ta

CIREBON – Pondok Buntet Pesantren di Blok Manis, Depok Pesantren Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, berperan besar dalam kemerdekaan Indonesia. Tragedi Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 juga erat kaitannya dengan pesantren itu.

Pondok Buntet Pesantren didirikan oleh Mbah Muqoyyim pada 1750 Masehi. Kisah bermula dari kekecewaan Muqoyyim yang sebelumnya menjabat penghulu di Keraton Kanoman Cirebon. Karena keraton berpihak ke kolonial Belanda, Muqoyyim akhirnya mengundurkan diri dari keraton dan mendirikan Pesantren Buntet.

1 riwayat-buntet-pesantren-dan-tragedi-sumpah-pemuda

Konon nama Buntet berasal dari peristiwa penculikan putri Raja Galuh bernama Puteri Dewi Arum Sari oleh Buto Ijo saat berbulan madu bersama suaminya Pangeran Legawa, putra Ki Ageng Sela. Puteri Arum Sari yang sedang mandi tiba-tiba diculik Buto Ijo dan dibawa ke hutan Karendawahana (diperkirakan sekitar Buntet sekarang).

Mbah Muqoyyim awalnya mendirikan Pesantren Buntet di Kedung Malang, Desa Buntet, Kecamatan Astanajapura, Cirebon. Ia membangun rumah sangat sederhana, langgar (surau), dan beberapa kamar santri. Banyak masyarakat yang tertarik untuk belajar mengaji ke Muqoyyim.

Belanda yang mengetahui kegiatan dan keberadaan Muqoyyim langsung menyerangnya. Mbah Muqoyyim bersama sahabatnya Kiai Ardi Sela lolos dari sergapan. Ia pun menuju Desa Pesawahan Sindanglaut, sekira 10 kilometer dari Pesantren Buntet.

2 buntet

Pengajian di Pesantren Buntet 

Gagal menangkap Muqoyyim, Belanda melampiaskan amarahnya dengan menghancurkan Pesantren Buntet. Mbah Muqoyyim kemudian berpetualang ke Pemalang sebelum kembali ke Cirebon dan membangun lagi Pesantren Buntet. Lokasinya bukan di Kedung Malang, tapi berpindah ke Blok Manis dan bertahan hingga sekarang.

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Buntet Pesantren, KH Adib Rofiuddin Ihza menceritakan bahwa dulu masyarakat yang ingin mondok di Buntet merasa seperti dibuang. Sebab, pesantren itu berada di tengah hutan. Lokasi itu sengaja dipilih sebagai tempat persembunyian dari serangan Belanda.

“Sistem pendidikannya dahulu hanya mengaji saja, namun pascatragedi Sumpah Pemuda para kiai mulai berpikir untuk menerapkan pendidikan formal,” kata dia beberapa waktu lalu.

Saat itu, sistem pendidikan formal hanya dilakukan di lembaga pendidikan Belanda. Dari tragedi Sumpah Pemuda itu, jiwa nasionalisme semakin tumbuh dan para kiai berpikir santri pun harus bisa mendapatkan pendidikan formal.

“Pertama berdirilah pendidikan madrasah ibtidaiyah kemudian terus berkembang hingga sekarang, dan sekarang sekira 4.000 santri menimba ilmu di Buntet Pesantren,” ujarnya.  (♛Hob3)

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Riwayat Buntet, Pesantren dan Tragedi Sumpah Pemuda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s