Kisah Ditikamnya Umar bin Khatab Hingga Wafat: Wasiat Mengharukan Sebelum Umar Wafat

kisah ditikamnya umar
♛ barb3ta

SEIRING terbitnya matahari pagi, berita mengerikan tersebut tersebar ke seantero Madinah. Penduduk ingin mengetahui lebih jelas mengenai kejadian yang sangat mengejutkan itu. Bahkan pemuka pemuka dari masing masing kabilah segera berkumpul di halaman rumah Umar untuk mengetahui kondisi kesehatanya.

Abdullah ibn Abbas mengungkapkan “Aku masih berada ditempat Umar dan dia belum sadarkan diri hingga matahari terbit. Setelah siuman, sambil berbaring ia bertanya: “Apakah orang-orang sudah salat?”

“Sudah”, jawab Abdullah ibn Abbas. Setelah itu ia memerintahkan Abdullah ibn Abbas untuk mencari tahu orang yang telah menusuknya. Aku segera keluar dan menemui para pemuka kabilah.

“Saudara saudaraku,” kata Abdullah ibn Abbas, “Amirul mumunin ingin mengetahui apakah peristiwa ini merupakan konspirasi kalian?”

Para pemuka kabilah yang mendengar pertanyaan tersebut menjadi kecut, dan serentak berkata, “Semoga Allah melindungi kami, kami tidak tahu. Mana mungkin itu akan terjadi. Jika kami tahu, pasti kami bersedia menebusnya dengan nyawa kami atau anak-anak kami.”

“Lalu siapa yang menikam amirul mukminin?” Tanya Abdullah bin Abbas lagi. “Ia ditikam oleh musuh allah, Abu Luluah budak Mughirah bin Syubah,” jawab mereka.

Abdullah bin Abbas kembali dalam rumah Khalifah Umar dan menyampaikan kabar orang yang telah menikamnya. “Alhamdulillah, aku tidak dibunuh oleh seorang muslim, tidak mungkin orang arab akan membunuhku,” kata Umar.

Kemudian Umar menangis. Umar berkata “Demi Allah, jika aku dapat meninggalkan dunia ini tanpa ada perkara yang memberatkanku dan tak ada apa-apa untukku, maka aku akan bahagia.”

Abdullah ibn Abbas berkata “Ya Amirul Mukminin, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meninggalkan dunia ini dan dia merasa bahagia denganmu, tidak ada dua orang Muslim yang berselisih berkenaan dengan kekhalifahanmu, setiap orang bahagia dengan kekhalifahanmu.”

Umar berkata “Aku tahu itu, tapi kekhalifahan ini membuatku khawatir. Wahai Abdullah, dudukkan aku”, kemudian mereka mendudukkannya. Kemudian Umar memegang bahu Abdullah dan berkata “Wahai Abdullah, maukah kau bersaksi untukku di hari kiamat?”

Abdullah berkata “Aku akan bersaksi untukmu di hari kiamat.” Kemudian Umar berbaring di pangkuan putranya, Abdullah ibn Umar. Dia berkata kepadanya “Tempatkan pipiku di lantai.”

Abdullah ibn Umar berkata “Kenapa ayah?” sembari mengecup kening Umar, dan menempatkan pipinya di lantai. Umar berkata “Jika aku ditakdirkan berada di surga, maka bantal surga lebih lembut daripada pahamu, dan jika aku ditakdirkan masuk neraka, maka kau tidak menginginkan seorang penghuni neraka di atas pahamu.”

Selain itu, ia juga berpesan kepada anaknya agar menjual benda benda yang dimilikinya untuk melunasi utang-utangnya. Sebab ia tidak ingin meninggalkan dunia dengan membawa kewajiban yang belum diselesaikan.

Kemudian Umar memberitahu anggota keluarganya “Lembut-lembutlah dalam mengkafaniku karena jika Allah menakdirkanku surga, maka Allah akan memberikanku yang lebih baik daripada ini, dan jika Allah menakdirkan neraka untukku, maka Allah akan mencabutku dari semua ini. Berlembutlah dalam menggali kuburku, karena jika Allah menakdirkanku surga, maka dia akan meluaskan kuburku. Dan jika Allah menakdirkan neraka untukku, maka kubur itu akan menghimpitku.” (♛Hob3)

Wallohu a’lam bishshawab

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s