Alquran 1,5 Abad Masih Tersimpan di Masjid Tertua Lampung

alquran-1-5-abad-masih-tersimpan-di-masjid-tertua-lampung

♛ barb3ta

 

BANDAR LAMPUNG – Alquran berusia lebih dari 1,5 abad yang tersimpan di Masjid Al Anwar diperkirakan menjadi Alquran tertua di Lampung. Alquran ini tersimpan rapi bersama ribuan koleksi buku-buku tua peninggalan penjajah.

Alquran berukuran agak besar itu tersimpan di dalam lemari kaca, di pojokan dua rak di Ruang Perpustakaan Masjid Al Anwar, Telukbetung Selatan. Lembaran-lembarannya berwarna cokelat kehitaman. Beberapa bagian tampak robek. Namun, ayat-ayat suci masih terbaca jelas pada Alquran tersebut.

“Alquran ini sudah enggak boleh dipegang, takut rusak. Makanya disimpan di dalam lemari kaca,” kata Pengurus Perpustakaan Masjid Al Anwar, Rusdi, Kamis (25/8/2016).

Rusdi mengatakan, tidak diketahui secara pasti usia Alquran tersebut. Tetapi diperkirakan usianya hampir sama dengan usia Masjid Al Anwar yang dibangun pada tahun 1839 silam.

“Alquran ini salah satu koleksi masjid yang berhasil diselamatkan oleh jamaah masjid waktu letusan Gunung Krakatau dahulu,” katanya.

Keistimewaan Alquran tersebut, kata Rusdi, yakni bukan cetakan, melainkan tulisan tangan. Namun, tidak diketahui siapa penulis Alquran tersebut. Rusdi menambahkan, dari penelusuran pun hanya sejarah Masjid Al Anwar yang bisa diketahui.

“Siapa yang menulisnya tidak diketahui. Tapi dari kabar yang beredar turun temurun, yang menulis itu seorang kiayi atau ulama sini,” sambungnya.

Selain Alquran yang ditaksir menjadi yang tertua di Sai Bumi Ruwa Jurai itu, Masjid Al Anwar juga memiliki koleksi ribuan buku tua. Rusdi menyebutkan, ada sekitar 4.500 buku berbahasa Belanda, Portugis, Jerman, dan Inggris yang kini tersimpan di lemari perpustakaan.

Menurut Rusdi, buku-buku tua itu kebanyakan adalah buku pengetahuan umum seperti pertanian dan perpabrikan (industri).

“Ini buku-buku yang masih bisa diselamatkan dari keganasan letusan Gunung Krakatau waktu itu. Ada juga kitab kuning dari Banten. Sekarang jadi koleksi masjid,” tuturnya.

Peninggalan sejarah yang juga menjadi saksi letusan hebat Gunung Kraktau dahulu yakni sumur tua di belakang masjid. Menurut Rusdi, sumur itu tidak pernah kering meski masuk musim kemarau.

“Lalu ada juga guci. Usianya mungkin sama dengan Alquran tua itu. Ada kemungkinan diselamatkannya barengan,” katanya.

Masjid Al Anwar sendiri adalah masjid tertua di Lampung. Rusdi mengatakan, pada pembangunan pertama di tahun 1839-1883, masjid itu masih berbentuk surau atau musala kecil. Pembangunan surau ini karena tidak ada rumah ibadah di dekat Pelabuhan Gudang Lelang kala itu.

“Dahulu itu pelabuhan terbesar. Banyak orang Bugis yang datang. Dan karena tidak ada musala, jadi mereka membangun surau yang jadi cikal bakal Masjid Al Anwar ini,” tuturnya.

Namun pada 1883-1888, akibat letusan dari Gunung Krakatau, masjid yang sudah luluhlantak dibangun kembali. Dan pada 1888-1922, masjid ini kembali direnovasi untuk memperkokohnya. Kemudian untuk pemugaran dan pembangunan fisik sebagai penunjang peribadatan, tahun 1962-1979 masjid ini kembali dibangun.

Menurut Rusdi, berdasarkan catatan sejarah Masjid Al Anwar, tanah masjid ini adalah tanah wakaf Daeng Sahiji seluas 5.000 hektar. “Dari para tokoh akhirnya dipilih nama Masjid Al Anwar yang artinya lebih bercahaya,” tutupnya.  (♛Hob3)

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s