Membangun Impian dari Tari

Membangun Impian dari Tari

♛ barb3ta

DARI seluruh penari EKI Dance, ada tiga penari yang sudah belasan tahun menjadi penari, yakni Eva, Tata, dan Kojeck.

Tata mengaku sudah 20 tahun di EKI Dance dan banyak mendapatkan pengalaman berharga, di antaranya disiplin dan menghargai waktu.

“Di EKI Dance itu semua harus disiplin. Mulai makan, tidur, hingga latihan semuanya harus tepat waktu. Kalau mau pergi juga harus izin karena semua penari EKI Dance tinggal di asrama,” tutur Tata yang sudah menari sejak sekolah dasar (SD).

Di samping itu, Tata belajar mengeluarkan ekspresi dari dalam tubuh saat menari, seperti ekspresi marah, senang, sedih, dan bahagia.

“Seperti saat mementaskan tari Bali yang harus bisa mengeluarkan tari sensualitas dan emosi di wajah harus keluar, tidak bisa datar-datar saja. Itu tidak bisa begitu saja muncul, harus benar-benar dilatih secara rutin dan disiplin,” sambungnya.

Menjadi penari, diakuinya, merupakan impian sejak kecil.

Alasannya sederhana, ia senang mendapatkan perhatian dari banyak orang.

“Bagi saya, menari dan mendapat tepuk tangan dari penonton merupakan sebuah kebanggaan dan kepuasan bagi saya sendiri. Oleh karenanya saya ingin terus menjadi seorang penari,” sambung Tata.

Namun, Tata berharap dunia tari Indonesia bisa menjadi profesi yang dihargai masyarakat dan menghasilkan di masa depan.

“Sampai sekarang saya tidak terbayang ke depannya seperti apa. Namun, hingga saat ini saya berusaha membangun impian yang tentunya baik untuk para penari sehingga suatu hari, dunia tari itu memiliki masa depan yang baik seperti profesi lainnya. Saya tetap menggeluti dunia ini selama 20 tahun karena ada mimpi yang belum tercapai,” pungkasnya.

 

“Dulu itu saya cuma punya hobi dua. Pertama balapan, kedua ialah break dance. Namun, karena kedua hobi saya itu, pada akhirnya lingkungan membawa saya sampai ke hal-hal yang negatif,” kenang Kojeck.

Kojeck dulu memakai narkoba. Bahkan saat kelas lima SD, Kojeck sudah berani mencoba untuk mengisap rokok.

“SD saya sudah merokok, SMP mulai mencoba narkoba hingga SMA. Selama itu, hidup saya penuh dengan hal-hal yang buruk dan negatif serta tidak berguna,” terangnya.

Lulus SMA, ia diajak kakaknya mengikuti audisi EKI Dance. Keduanya pun lolos dan baru setelah mengenal dunia sanggar tari, Kojeck berubah.

Kojeck pun memperdalam dunia tari, sebab menjadi penari profesional tidak hanya menguasai satu jenis dan aliran tari saja.

“Minimal dua jenis tari, misal balet dan kontemporer.

Selain itu, harus mengerti style tarinya seperti style jazz, tango, dan etnik.

Itu pun harus dilatih selama sekitar dua tahun untuk benar-benar bisa menjadi seorang penari profesional,” kata Kojeck.

Bangga

Rasa bangga menjadi penari profesional juga dirasakan Eva.

Wajar saja, sejak ia menekuni tari, orangtuanya kurang setuju.

“Dulu orangtua saya itu bingung ketika saya mau menjadi penari. Mereka menyarankan agar memilih profesi lain yang lebih menjanjikan seperti dokter, arsitek, atau penyanyi,” terang Eva.

Setelah Eva melalui berbagai capaian dan latihan keras, kini orangtuanya bangga melihat ia pentas.

Rasa bangga itu tampak dari keduanya saat menghampiri Eva seusai menari.

“Sekarang orangtua sangat senang melihat saya menari walaupun saya masih belum bisa memberikan uang yang banyak untuk orangtua saya. Setidaknya orangtua saya bangga kalau saya menari karena setelah saya menari, orangtua selalu mendatangi saya meskipun kadang mereka bilang tidak tahu saya yang mana,” ujarnya ketawa.    (♛Hob3)

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s