Tips Dampingi Anak untuk Berkarya

 

Anak harus diajarkan semua proses dalam berkarya.

0 ibu-dan-anak_663_382

♛ barb3ta

Buku? Menghasilkan mudah dilakukan pada zaman sekarang ini. Mau model buku seperti apa? Tulis dan kirim ke penerbit indie. Asal ada biayanya, buku karya kita bisa kita dapatkan. Karena sudah bergelut lama di dalam dunia menulis, maka saya paham seluk-beluk bagaimana menerbitkan buku.

Tapi, tidak akan saya mudahkan jalan anak-anak untuk menghasilkan buku. Mereka harus tahu, semua ada prosesnya. Mereka harus paham, bahwa proses itu panjang dan berliku. Dan siapa yang sabar, dia yang akan mendapatkan hasilnya. Panjang sekali jalan mereka untuk berkarya.

Saya memang mengajak mereka berjalan berbelok dan berliku. Tujuannya agar mereka paham makna dari kerja keras. Tapi mereka harus tahu ujung dari proses itu. Misalnya, kalau aku menulis, terus tulisanku bagus, ibu akan kirim tulisanku ke majalah. Tulisanku bisa dibaca orang dan aku bisa dapat uang juga dari tulisan itu.

1 gambar-anak-anak-300x233

Saya memang mengajak mereka berjalan berbelok dan berliku. Tujuannya agar mereka paham makna dari kerja keras. Tapi mereka harus tahu ujung dari proses itu. Misalnya, kalau aku menulis terus tulisanku bagus, Ibu akan kirim tulisanku ke majalah. Tulisanku bisa dibaca orang dan aku bisa dapat uang juga dari tulisan itu.

Karena mereka tahu pekerjaan saya penulis, maka mereka juga paham bahwa ketika karya mereka sudah muncul, itu artinya mereka tidak boleh berhenti. Sebab, itu artinya mereka baru sampai di satu titik dari sekian banyak titik pencapaian yang bisa mereka raih.

Jalan berkelok dan berliku itu adalah mengajak mereka untuk terus berkarya. Saya terus kirimkan karya mereka ke media atau ke penerbit.

“Bu, aku mau punya buku,” begitu yang Bungsu bilang.

Setelah cukup lama mengirim karya-karya mereka ke media, akhirnya satu persatu karya mereka dimuat di media seperti Kompas dan Bobo.

Bukan cuma satu dua, tapi ada beberapa. Blog Bungsu malah aktif, karena memang saya sarankan untuk terus diisi.

Blog Sulung juga, meski sebagai lelaki dia agak malas menulis di blog. Mungkin takut perasaanya terungkap semua.

“Buuu, kapan bukuku terbit?” tanyanya lagi.

Waktu itu Pak Pos mengirimkan buku antologi Sulung. Kebetulan Sulung terpilih menjadi salah satu pememang lomba cerpen bertema lingkungan. Selain honor, naskahnya dibukukan bersama pemenang lainnya.

Bungsu berkali-kali ikut lomba. Kalah. Sampai akhirnya suatu saat, setelah hampir putus asa, dan belajar terus menulis, Bungsu bisa memenangkan lomba menulis juga.

Tapi, bukunya belum juga terbit. Setahun lebih. Sampai akhirnya dia ada di titik jenuh menunggu. Justru ketika sampai di titik itu, kejutan datang. Sebuah buku antologi dia bersama para penulis lainnya.

2 Buku-Bilqis-300x242

Terus gantungkan harapan. Terus berimpi. Terus yakin, itu yang saya katakan. Naik turun semangat itu biasa. Yang penting saya terus mendampingi.

Setelah dia bergabung dan terpilih sebagai delegasi dari Bekasi di Konferensi Penulis Cilik Indonesia 2015, yang diadakan Kemendikbud bekerjasama dengan penerbit Mizan, maka Bungsu bertemu dengan anak-anak seusianya yang punya passion yang sama, menulis. Dan itu artinya dia melihat dunia lain. Bukan hanya melihat menulis sebagai kegiatan ibunya.

Dari situ mimpinya mengerucut.

“Buu, aku pingin punya buku karya sendiri. Cuma ada namaku di situ.”

“Berdoa terus. Pasti nanti Allah kasih jalan.”

Alhamdulillah doanya dikabulkan. Editor memesan tulisan Bungsu untuk dijadikan buku. Bungsu menyanggupi dan mulai bekerja.

Satu buku ini yang dikerjakan setiap pulang sekolah, menulis setiap hari delapan halaman, akhirnya hadir juga. Bungsu melonjak kesenangan.

Semua ide di buku ini murni idenya Bungsu. Tidak ada interupsi. Dia sudah saya biasakan menulis sejak kecil, jadi tidak membutuhkan ide dari saya.

Proses yang mereka jalani masih panjang. Yang saya tahu tugas saya fokus untuk terus mendampingi. (♛b3)

3 IMG-20160411-WA0000-251x300

source
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s