Anak Adalah Tanggung Jawab Bersama

 

Dilema pemidanaan kasus perkosaaan YY, pelaku dan korban adalah anak.

anak.png

♛ barb3ta

Kesedihan mendalam menyimak kisah tragis meninggalnya YY (14) siswi SMPN 5 Kecamatan Padang Ulak Tanding (PUT), Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Ia dianiaya dan diperkosa 14 orang, jasadnya dibuang ke jurang.

Peristiwa tidak beradab ini memang mengandung berbagai ironi. Misalnya, kejadian sudah berlangsung pada 4 April, pelaku tertangkap oleh polisi pada 10 April. Namun pada era dunia tanpa batas, peristiwa ini baru menjadi sorotan setelah akhir April merebak kampanye solidaritas untuk korban dengan tagar #NyalauntukYuyun di media sosial.

Sebanyak 12 orang pelaku sudah ditangkap polisi, 7 orang di antaranya adalah berstatus anak berusia di bawah 18 tahun. Sebagian bahkan tercatat sebagai kakak kelas korban di SMPN 5 Padang Ulak Tanding. Kini ketujuh anak tersebut tengah diadili di Pengadilan Negeri Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu.

Jaksa menuntut hukuman penjara 10 tahun penjara. Anak-anak tersebut dipersalahkan melanggar pasal 80 ayat 3 dan pasal 81 ayat 1 juncto pasal 76d UU No. 35/2014, tentang Perlindungan Anak.

Tuntutan 10 tahun tersebut, dinilai banyak pihak terlalu ringan. Direktur Kampanye kelompok penyintas kekerasan seksual Lentera Indonesia, Sophia Hage, misalnya menganggap, tuntutan itu tidak maksimal. Menurut dia tuntutan maksimal perlu untuk memberikan rasa keadilan pada korban dan keluarga, serta mencegah agar peristiwa serupa tidak terulang di masa mendatang.

Jaksa, memang tidak menerapkan ancaman maksimal atas pasal yang didakwakan. Ancaman hukuman pasal tersebut, sangat berat, 15 tahun. Namun ada dilema dalam menerapkan tuntutan maksimal dalam kasus ini.

Penyebabnya, pelaku dan korban, adalah anak-anak, yang sama-sama punya hak untuk dilindungi.

Pasal 79 Ayat 2, UU No.11/2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) menyebut: “Pidana pembatasan kebebasan yang dijatuhkan terhadap anak paling lama 1/2 (satu perdua) dari maksimum pidana penjara yang diancamkan terhadap orang dewasa”.

Bila mengikuti UU SPPA, tuntutan maksimal terhadap mereka hanya 7 tahun 6 bulan.

Terlepas dari perdebatan soal tuntutan pidana terhadap pelaku, kekerasan seksual yang dilakukan terhadap anak, adalah peristiwa keji, yang sudah pada tahap mengkhawatirkan.

Tahun lalu Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas Perlindungan Anak) menyatakan Indonesia dalam kondisi darurat kekerasan seksual pada anak. Data yang dihimpun lembaga ini, menyebutkan pada periode 2010-2014 tercatat 21,6 juta kasus pelanggaran hak anak.

Dari jumlah tersebut, 58 persen dikategorikan sebagai kejahatan seksual. Komnas Perlindungan Anak juga melakukan kampanye melawan kekerasan terhadap anak. Kampanye ini akan melibatkan masyarakat secara aktif.

Perangkat Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), dan Karang Taruna akan menjadi ujung tombak. Mereka dilibatkan untuk melakukan pengawasan dan perlindungan bersama terhadap keamanan anak-anak di lingkungan masing-masing.

Pemerintah pun mendukung dengan menerbitkan Inpres No. 5/2014 tentang Gerakan Nasional Menentang Kekerasan Seksual Anak. Bahkan Presiden Joko Widodo secara prinsip menyetujui, pelaku kekerasan seksual terhadap anak masuk dalam kategori kejahatan luar biasa atau extraordinary crime.

Kekerasan seksual terhadap anak, sama derajatnya dengan kejahatan korupsi, terorisme, narkotika, dan perdagangan manusia. Selanjutnya akan dibuat Peraturan Pemerintah Pengganti UU (Perppu), untuk melindungi anak dengan ancaman hukuman kebiri bagi pelakunya.

Apapun itu, perkosaan dan pembunuhan terhadap YY yang pelakunya ternyata kebanyakan adalah anak-anak, menjadi cambuk bagi kita semua.

UU Perlindungan anak Pasal 20 jelas menyebutkan: Negara, pemerintah, masyarakat, keluarga, dan orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab terhadap penyelenggaraan perlindungan anak.

Artinya kesalahan atas peristiwa di luar adab tersebut tak bisa sepenuhnya ditimpakan kepada para pelaku. Secara proporsional, ada kegagalan pemerintah dan negara dalam fungsinya melindungi anak.

Masyarakat pun punya andil kesalahan. Ketika 14 pelaku mabuk-mabukan, pesta tuak (miras), masyarakat sekitar wajib menegurnya. Masyarakat wajib melindungi anak-anak agar tidak ikut mabuk. Pedagang miras pun bisa diminta pertanggungjawaban karena menjual tuak kepada anak-anak.

Orang tua para pelaku juga patut dimintai pertanggungjawaban. Seperti tertulis pada Pasal 26 Ayat 1 a UU No. 35/2014, “Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk; mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak”.

Dalam kasus ini, apakah orang tua pelaku telah gagal dalam mengasuh, memelihara dan mendidik anaknya?

Pun sekolah sebagai lembaga pendidikan. Sebagian pelaku adalah kakak kelas korban. Apa yang salah dalam proses pendidikan hingga hal ini bisa berlaku? Pendidikan terkesan hanya menekankan aspek kognitif, tetapi melupakan aspek afektif. Kecerdasan emosi (EQ) seperti terabaikan.

Sudah saatnya memikirkan keseimbangan muatan dalam kurikulum, antara muatan bersifat hard skill dan soft skill. Landasan jiwa yang penting agar anak menuju dewasa bisa memahami dan berempati kepada sesama.

Anak didik seharusnya tak hanya pandai dalam akademik, tapi juga punya adab dan budi pekerti. Tentu saja dengan pembelajaran yang sungguh-sungguh, bukan artifisial, apalagi seremonial.

Sudah terlalu banyak korban kekerasan seksual terhadap anak. Apalagi saat anak pun jadi pelaku. Kita harus bergandengan tangan menghentikannya. Bila peristiwa serupa masih terjadi, kita patut merasa ikut bersalah.

Sebab melindungi anak, sesuai konstitusi menjadi kewajiban bersama, pemerintah, keluarga dan masyarakat.  (♛b3)

@alkindycandy
Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s