Raja Isa, Sosok Penting dalam Sejarah Pemerintahan di Batam

Keberadaan dan perkembangan Kota Batam tak bisa dilepaskan dari sosok Raja Isa. Siapa dia?

raja-isa-sosok-penting-dalam-sejarah-pemerintahan-di-batam-

♛ barb3ta

Semua berawal dari seorang pria yang punya nama timang-timangan Nong Isa, yang membuka Kampung Nongsa di Utara Pulau Batam. Dalam buku Nong Isa, Tonggak Awal Pemerintahan Batam, yang ditulis Ahmad Dahlan, Aswandi Syahri, dan Edi Sutrisno, Nong Isa bernama Raja Isa.

Ayahnya adalah Raja Ali, putra Daeng Kemboja Yang Dipertuan Muda Riau III, yang menggantikan Raja Haji Fisabilillah sebagai Yang Dipertuan Muda Riau sebagai Yang Dipertuan Muda Riau V.

Bunda kandungnya bernama Raja Penuh binti Sultan Salehuddin, Sultan Selangor. Sedangkan istrinya bernama Raja Buruk binti Raja Abdulsamad ibni Daeng Kamboja atau Engku Wok atau Engku Wuk. Selain itu, ia juga mempunyai istri kedua yang tidak diketahui namanya.

Dalam arsip-arsip Belanda, Raja Isa dipandang sebagai tokoh penting dalam keluarga diraja Riau di Pulau Penyengat, dan namanya dicatat dan sejajar dengan tokoh lain seperti Raja Jakfar Yang Dipertuan Muda Riau VI dan lain-lain.

Menurut catatan Resident Riouw, L. C. von Ranzouw, Raja Isa menjabat sebagai opvolger atau Kelana calon pengganti Raja Jakfar bila Yang Dipertuan Muda Riau itu mangkat.

Jabatan Kelana itu adalah salah satu jabatan yang penting dalam hierarki kerajaan Riau-Lingga-Johor-dan Pahang, sebagaimana pernah disandangkan di pundak Raja Haji Fisabilillah.

Dari kedua istrinya, Raja Isa memperoleh beberapa orang anak laki-laki antara lain adalah Raja Yakup, Raja Idris, Raja Daud, dan Raja Husin.

Pada masa hidupnya, Nong Isa dan keluarga menetap di Pulau Nongsa dan Sungai Nongsa di Pulau Batam. Hanya anaknya yang bernama Raja Husin kemudian berpindah dan menetap di Pulau Penyengat ketika telah berusia 87 tahun.

Selain dikenal sebagai tokoh yang membuka Nongsa, selembar arsip (tepatnya salinan selembar arsip surat) dalam koleksi Arsip Riouw di Arsip Nasional Republik Indonesia, menyebut bahwa Raja Isa diberi ‘kuasa’ memegang perintah atas Nongsa dan rantau sekitarnya di bawah pemerintahan Sultan Abdulrahman Syah yang bersemayam di Lingga dan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jakfar di Pulau Penyengat.

Peristiwa ini terjadi lima tahun setelah Traktat London tahun 1824, yang ditandai dengan surat Comisaries Jendral sekaligus Resident Riouw Letnan Kolonel Cornelis PJ Elout pada tanggal 22 Jumadil Akhir 1245 Hijriah yang bersamaan dengan tanggal 18 Desember 1829 Masehi.

Momentum sejarah dan tarikh dokumen ‘pengukuhan’ Raja Isa alias Nong Isa inilah yang kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Batam.

Setelah dibuka oleh Nong Isa, perlahan-lahan Nongsa berkembang menjadi sebuah pelabuhan yang penting menggantikan kawasan pelabuhan di sekitar Selat Bulang yang mulai sepi ditinggalkan sejak Temenggung Abdulrahman pindah ke Singapura tahun 1818.

Sejak 1829, Nongsa mengambil alih fungsi Selat Bulang. Semua kapal yang berasal dari Riau (Tanjungpinang, Pulau Penyengat) dan pulau-pulau di Selatan Pulau Bintan singgah terlebih dahulu di Nongsa sebelum menyeberang ke Singapura.

Pengukuhan Raja Isa memegang perintah atas Nongsa dan rantau sekitarnya atas nama Sultan Abdulrahman Syah Lingga-Riau  (1812-1832) dan Yang Dipertuan Muda Riau Raja Jakfar (1808-1832) amat penting bagi perjalanan sejarah Batam.

Peristiwa tersebut menandai sebuah ‘babak baru’ dalam perjalanan sejarah pemerintahan lokal  di Batam. Dan, dalam kenyataannya, momentum historis ini adalah penanda yang diwariskan kepada penerus-penerus pemerintahan lokal di Batam yang silih berganti menerajui atau memegang pucuk pemerintahan tertinggi di Batam sejak tahun 1829 hingga saat ini.

Misteri Makam Raja Isa

Meski Raja Isa tokoh besar yang berjasa bagi perkembangan Batam, hingga saat ini belum diketahui di mana lokasi makamnya.

Selama ini, Pemko Batam sudah berusaha mencari lokasi Makam Raja Isa atau Nong Isa. Namun sampai saat ini belum juga ditemukan karena tidak adanya penanda pada makam.

“Semua makam raja-raja ada jejak semua. Kalau Nong Isa ini tidak ada penanda. Pemakaman yang ada saat ini hanya saudara dan keturunannya,” kata Ahmad Dahlan, Wali Kota Batam dua periode (Maret 2006-Maret 2011 dan Maret 2011-Maret 2016).

Ketua Perhimpunan Zuriat Raja Riau Lingga Raja Gani menjelaskan bahwa awalnya ada tiga lokasi pemakaman di kawasan Nongsa. Dibedakan menjadi makam para penghulu, orang biasa, dan mereka yang memiliki gelar kesultanan.

“Kalau dari cerita-cerita, makam Nong Isa itu ada di hulu sungai. Tapi bukan yang dipindahkan, karena yang dipindahkan itu yang ada di ujung bawah sungai. Sementara yang sebelah atas banyak yang jatuh ke laut,” cerita generasi kelima zuriat (keturunan) Nong Isa ini.

Berdasarkan cerita yang diterima Gani dari orangtuanya, Nong berasal dari kata nun yang berarti jauh di sana dan Isa nama orang sehingga bisa dikatakan Nong Isa berupa tempat jauh keberadaan Isa.

“Ada juga mengatakan nong panggilan untuk seseorang,” kata dia.

Kisah Raja Isa ditetapkan sebagai orang yang mengurusi Batam, kata Abdul Gani, bermula dari utusan kerajaan Riau yang hendak menyeberang ke Lingga, mereka beristirahat di Batam untuk mengambil persediaan air tawar untuk minum. Setelah air minum didapat para utusan itu, tiba-tiba kapal yang digunakan terdampar hingga kesulitan melanjutkan perjalanan ke Lingga.

“Isa datang kemudian menolong mereka,” kata dia.

Dari sana, sosok Isa mulai tersebar ke penjuru Kerajaan Riau Lingga hingga ke telinga raja. Sejak itu, kata Gani, jika orang-orang hendak bepergian ke Batam, mereka menyebutnya hendak pergi ke tempat Nong Isa.

Menurut Ketua Dewan Penasehat Lembaga Adat Melayu (LAM) Kota Batam Machmur Ismail, Nong Isa mengantarkan Batam memulai perjalanan sejarahnya. Kebesarannya kini dikenang sebagai sebuah sejarah. Tak ada lagi yang tersisa dari dia di Batam, selain sebuah kompleks pemakaman zuriatnya yang ada di Bukit Nongsa Pantai.

Bahkan, keberadaan makam Nong Isa sendiri hingga hari ini masih misterius. Tak ada yang tahu, di mana gerangan makam Raja Pertama peletak pondasi sejarah Batam ini.

“Sering terjadi bias informasi, seolah-olah Nong Isa ikut dikebumikan di kompleks makam itu. Padahal sampai sekarang kita tak tahu di mana keberadaan makam Raja Isa,” ujarnya.

Machmur menilai belakangan ini banyak warga Batam yang memang tak lagi tahu tentang sejarah Nong Isa. Padahal, sejarah Nong Isa merupakan cikal bakal terbentuknya pemerintahan administratif Kota Batam.

Minimnya informasi yang disajikan terkait sejarah Nong Isa membuat generasi muda tak lagi tertarik dengan sejarah. Berkunjung ke Makam Zuriat Nong Isa juga tak banyak membantu, karena di sana tak memuat catatan sejarah mengenai raja pertama Batam itu.

Situs bersejarah itu juga tak punya juru kunci yang senantiasa siap meladeni pertanyaan para pengunjung yang penasaran terhadap sejarah yang sahih mengenai Raja Isa. Kerap kali pengunjung yang datang untuk mencari tahu pulang dengan kecewa, karena tak berhasil mendapat informasi apa pun.

Dia meminta Pemerintah Kota Batam tak tutup mata dengan kondisi tersebut. Menurutnya, sudah saatnya kompleks pemakaman zuriat Nong Isa dilengkapi dengan prasasti, yang memuat keterangan historis Nong Isa, serta kaitannya dengan awal mula adanya pemerintahan di Batam.

Prasasti tersebut dituliskan dalam bahasa indonesia dan bahasa inggris, sehingga turis asing yang berkunjung juga bisa memahami informasi yang dicantumkan. Itu merupakan salah satu bentuk nyata upaya pelestarian sejarah.

“Kalau sudah ada prasasti, informasi yang diterima oleh pengunjung tak simpang siur. Mereka bisa mendapatkan keterangan sejarah yang autentik melalui prasasti tersebut,” katanya memberikan saran.

Alangkah lebih baik lagi bila di sana ada orang yang diberi tugas khusus untuk memerhatikan dan merawat kompleks situs makam zuriat Nong Isa. Orang itu bisa memastikan bahwa makam tersebut dalam keadaan bersih dan terawat, sehingga pengunjung tak enggan datang berkunjung.

Orang itu juga bisa memberikan penjelasan yang gamblang ketika ada pengunjung yang ingin mendapat informasi lebih lengkap mengenai sejarah Nong Isa dan Batam.

“Tentu orangnya harus tahu sejarah Nong Isa sendiri. Dia nantinya bisa menjelaskan, bahwa di sana tak ada makam Nong Isa, yang ada adalah makam kerabatnya. Sehingga tak terjadi salah penafsiran bagi pengunjung,” ujarnya.

Hingga hari ini, kompleks makam zuriat Nong Isa ada di atas lahan yang sudah dialokasikan oleh BP Batam kepada investor. LAM, katanya, akan terus berupaya, terutama mendukung upaya para zuriat Nong Isa yang ada sekarang untuk memperjuangkan status lahan makam pusaka leluhurnya.

Jika memang perlu, LAM akan menginisiasi pertemuan antara BP Batam, Pemko Batam, Zuriat Nong Isa, dan LAM untuk duduk semeja membicarakan status lahan tersebut.

“Empat unsur ini harus duduk bersama. Saya kira kita bisa membuat negosiasi-negosiasi yang saling menguntungkan. Sejarah ini tak boleh hilang, tapi tak juga merugikan investor,” paparnya. (♛b3)

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s