Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata?

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata

♛ barb3ta

Sebagian besar dari kita merasa butuh lebih banyak tidur, tetapi sebagai sebuah spesies kita sebenarnya berevolusi tidur lebih sedikit dari kerabat kera dan monyet. Apakah itu dapat menjadi kunci kesuksesan kita?

Saya selalu merasa cemburu dengan orang yang dapat tidur hanya enam jam. Saya memilih delapan jam, atau kadang lebih. Saya dapat tidur selama enam jam, tetapi setelah beberapa hari, otak saya akan di bawah kapasitas penuhnya.

Berapa banyak waktu tidur, berdampak pada kita semua. Terlalu banyak tidur akan membuat kita pening dan disorientasi. Tidur terlalu sebentar dan suasana hati, menyebabkan sulit berkonsentrasi.

Jika ini terus berlanjut dapat menyebabkan masalah kesehatan yang serius, memperbesar risiko diabetes, kegemukan dan tekanan darah.

Sebagian besar dari kita tidur antara enam sampai sembilan jam semalam, artinya kita menghabiskan sepertiga hidup kita untuk tidur. Ini mungkin terasa lama, tetapi sebenarnya kita tidur lebih sedikit dibandingkan seluruh primata – kelompok yang didalamnya termasuk monyet, kera dan kita.

Sebuah analisa baru mencari tahu tentang dampak tidur yang telah terjadi dalam evolusi kita. Penelitian yang baru ini menunjukkan bahwa manusia telah berevolusi untuk tidur lebih sedikit, tetapi juga sangat nyenyak. Ini mungkin yang dapat menjelaskan kesuksesan kita sebagai sebuah spesies.

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata2.jpg

Banyak kera yang tidur di sarang di pohon (Kredit: Kathelijne Koops)

Tiga juta tahun yang lalu, nenek moyang kita masih memiliki tubuh seperti kera.Australopithecines mungkin tidur di pohon, seperti simpanse modern.

Tetapi dua juta tahun yang lalu, hominin telah sepenuhnya berjalan tegak lurus. Homo erectus menghabiskan waktu di daratan, dan mungkin merupakan hominin pertama yang membuat tempat tidur di darat. Jika itu benar, kita telah tidur di darat untuk waktu yang lama.

Tidur di darat mungkin dilakukan H. erectus dengan kualitas yang lebih tinggi, dengan lebih tenang.

Untuk satu hal, mereka tidak harus khawatir jatuh dari pohon. Lebih jauh, ketika risiko dari predator lebih besar di daratan, mereka memiliki cara untuk melindungi diri mereka sendiri.

Terutama, H. erectus mungkin menguasai penggunaan api. Kobaran api dan asap dapat menakuti nyamuk dan predator yang besar, membuat mereka tetap aman. Mereka juga memiliki tempat persembunyian seperti gua.

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata3

Homo erectus memiliki ukuran otak yang lebih besar dibandingkan pendahulunya hominin.

Kita tidak memiliki bukti langsung bahwa H. erectus menggunakan api pada masa itu. Tetapi 10 tahun yang lalu, Richard Wrangham dari Universitas Harvard mengemukakan bahwa nenek moyang kita pasti telah mengkonsumsi makanan yang sudah dimasak untuk mendapatkan cukup kalori sebagai bahan bakar demi otak yang lebih besar.

Seperti yang ditulis dalam BBC Earth sebelumnya, mengisi bahan bakar energi untuk otak yang lapar dengan cukup kalori menjadi sesuatu yang penting untuk evolusi. Jika nenek moyang kita tidak memasak, Wrangham berpendapat, mereka pasti menghabiskan waktu untuk mengunyah dan mencerna.

Ada juga bukti pada saat yang sama ketika hominin turun dari pohon, mereka menjadi lebih cerdas dan memperoleh senjata yang lebih baik.

H.erectus mulai membuat peralatan yang lebih baik. Teknologi seperti kapak genggam Acheulean seperti dibawah ini, di mana lebih maju dibandingkan dengan alat batu lainnya. Pengetahuan ini disebarkan secara luas, jadi mereka harus belajar dengan cepat.

Meskipun kita tidur lebih sedikit beberapa jam dibandingkan primata lain, tidur yang kita lakukan memiliki kualitas yang baik.

Besaran kelompok juga meningkat pada waktu itu, mungkin terbantu oleh persenjataan yang lebih baik dan kemampuan komunikasi.

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata4.jpg

Kapak batu, alat yang digunakan nenek moyang manusia

Menurut David Samson dan Charles Nunn dari Universitas Duke di North Carolina, AS, seluruh perubahan ini – dari kelompok yang besar menjadi alat yang lebih maju – dapat terkait dengan sebuah perubahan cara tidur nenek moyang kita.

Kami telah menyusun ide-ide mereka dalam sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal Evolutionary Anthropology.

Mereka berargumentasi bahwa pindah dari pohon ke tanah membuat nenek moyang kita tidur lebih nyenyak “yang dapat mempengaruhi kognisi,” kata Samson.

Teori ini berlaku meskipun kita tidur beberapa lebih sedikit dibandingkan primata lain, tidur kita memiliki kualitas yang tinggi sehingga kita tidak membutuhkannya terlalu banyak.

Untuk memahami apakah tidur manusia adalah unik, Samson dan Nunn membandingkan pola tidur dari 21 primata, yang pola tidurnya telah dianalisa.

Manusia karenanya memiliki tidur yang lebih nyenyak dibandingkan primata lain.

Demikian juga catatan berapa lama hewan tidur, tampak dari berapa waktu yang dihabiskan untuk tidur dengan gerak mata cepat (REM). Ini ketika kita tidur, dan ketika otak kita mengkonsolidasikan ingatan dalam tempat penyimpanan jangka panjang.

Manusia tidur paling sedikit. Primata yang paling banyak tidur adalah lemur abu-abu dan monyet-monyet malam, yang masing-masing tidur 15 dan 17 jam.

Tetapi berlawanan dengan primata itu, manusia menghabiskan waktu tidur dengan mata bergerak REM dengan proporsi yang paling tinggi: hampir 25%. ”Manusia memiliki tidur yang paling nyenyak diantara primata lain,” jelas Samson.

Primata lain memiliki tidur REM yang lebih sedikit, antara 5-10%

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata5

Tidur di pohon memiliki risiko untuk jatuh. (Kredit: Florian Möllers/naturepl.com)

Sebelumnya Samson membandingkan tidur kera dengan monyet dan menemukan pola yang mirip: kera tampak memiliki kualitas tidur yang lebih banyak dibandingkan monyet.

Anda butuh untuk lingkungan tidur yang unik untuk dapat menarik ini keluar.

Ini mungkin karena kera tidur dalam sarang khusus yang dibuat di pepohonan. Monyet tidak dapat, dan lingkungan mereka seringkali kurang aman. Itu artinya mereka tidak tidur dengan nyenyak, agar dapat bangun dengan cepat jika ada predator yang mendekati mereka.

Hanya saja kera memiliki kualitas tidur yang lebih baik dibanding monyet, jadi kita tidur lebih baik dibanding kera. “Dari sebuah perspektif evolusioner, hanya sebagai transisi dari dahan pohon ke platform tidur telah menyesuaikan manfaatnya, jadi transisi hominin awal dari platform tidur ke untuk mengukuhkan tidur di tanah,” jelas Samson sebelumnya kepada BBC Earth.

Dia berargumen kita tidak dapat tidur dengan sangat nyenyak sampai kita menemukan cara tidur dengan aman. Selama Anda berada pada fase tidur REM Anda “pada dasarnya dekat dengan mati ketika berada di dunia luar, seperti yang tak pernah Anda alami,” kata Samson.

“Anda butuh lingkungan tidur yang unik untuk dapat menarik ini keluar.”

Gagasan bahwa manusia telah berevolusi untuk tidur lebih sedikit tetapi sangat bertentangan dengan keyakinan masyarakat.

Tentunya teknologi modern seperti pencahayaan buatan telah menganggu pola tidur alami kita? Bukankan itu alasan mengapa kita semua kurang tidur?

Secara mengejutkan, ini tidak semuanya benar.

Kurang tidur tidak tampak mengurangi kemampuan kognitif.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada November 2015 memantau kebiasaan tidur tiga masyarakat pra industrial: dua kelompok pemburu dari Afrika dan satu kelompok holtikultural dari Bolivia.

Seluruh kelompok rata-rata tidur 6,4 per malam, mulai dari 5,7-7,1 jam. Rata-rata ini bahkan kurang dari masyarakat industrial.

Orang-orang yang diteliti bangun sebelum matahari terbit dan tidur beberapa jam setelah matahari terbenam, menunjukkan bahwa cahaya alami dan gelap tidak menentukan kapan mereka akan tidur.

Terlebih lagi, lebih sedikit tidur tidak tampak akan mengurangi kemampuan kognitif mereka, dan mereka secara umum sehat, kata pemimpin tim penulis Jerome Siegel dari Universitas California, di Los Angeles AS. Ini menunjukkan bahwa mereka cukup tidur.

Tidur REM sangat penting untuk mengembangkan sistem syarat.

Studi Siegel tidak mengungkapkan apapun kepada kita mengenai spesies nenek moyang seperti H. erectus. Tetapi menunjukkan tentang manusia modern awal, yang tinggal di lingkungan yang sama dengan orang dalam penelitian itu, juga secara mengejutkan butuh sedikit tidur.

Sangat rumit untuk memastikan tentang itu, karena sejumlah orang butuh tidur lebih banyak dibandingkan yang lain. Bahkan bisa menjadi pola tingkat populasi: kelompok orang tententu mungkin mewarisi gen yang dapat membuat mereka tidur lebih sedikit.

Studi Samson dan Nunn fokus pada jumlah rata-rata tidur, yang diambil dari seluruh populasi. Tetapi itu mungkin saja menghilangkan sesuatu, kata pakar tidur Jeffrey Durmer dari Georgia State University di Atlanta, AS.

Tidur sangat penting ketika kita masih sangat muda, terutama tidur REM. Bayi menghabiskan tidur REM lebih banyak dibandingkan anak-anak atau orang dewasa.

Jika Anda membandinkan tidur REM pada anak terhadap seorang dewasa, perbedaannya lebih besar dibandingkan antara manusia dan simpanse, kata dia. Ini mungkin berarti bahwa mendapatkan tidur yang cukup pada masa awal kehidupan lebih penting untuk membanu nenek moyang kita untuk mengembangkan otak hominin menjadi lebih besar.

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata6

Bayi lebih banyak tidur dibanding orang dewasa.

“Tidur REM sangat penting dalam pengembagan sistem saraf,” kata Durmer. “Itu berarti bahwa kognisi khususnya sangat bergantung pada tidur REM.”

Siegel berpikir bahwa tidur REM tidak begitu penting bagi manusia.

Masalah terbesar dengan gagasan Samson dan Nunn adalah bahwa kita belum mengetahui seluruh fungsi tidur, jadi kita tidak dapat mengatakan dengan pasti apa manfaat yang kita dapat dari tidur REM lebih banyak.

Secara khusus, secara periodik kita beralih dari tidur REM ke jenis tidur yang lain. Kita tidak mengetahui mengapa ini terjadi, atau bagaimana pentingnya mereka, kata Derk-Jan Dijk dari University of Surrey Inggris. “Mungkin masih ada rahasia kecil di sana.”

Gambarannya bahkan lebih buram ketika kita memulai membandingkan tidur REM kita dengan hewan lain, di luar kerabat dekat kita primata.

Mengapa manusia tidur lebih sedikit dibanding primata7.jpg

Lumba-lumba tak pernah benar-benar tidur (Kredit: Andy Rouse/naturepl.com)

Dia berpendapat bahwa kita harus mempertimbangkan seluruh mamalia, tidak hanya primata. Ketika kita melakukannya, manusia tidak membutuhkan proporsi tidur yang lebih besar.

Kita mungkin memiliki kegunaan tidur REM yang sangat berbeda jika dibandingkan dengan spesies yang lain.

Kaitan antara tidur REM dengan kecerdasan juga sangat kabur. Sebagai contoh lumba-lumba cerdas dan memiliki otak yang besar, namun mereka tidak membutuhkan tidur REM. Sementara itu, sejenis tupai opossums, yang tidak dikenal sebagai pemikir, membutuhkan tidur lebih dari enam jam.

Samson tidak setuju. Dia mengungkapkan bahwa gaya hidup yang berbeda dari spesies dapat menghasilkan perbedaan kebutuhan tidur mereka.

Lumba-lumba telah dikenal hanya tidur dengan sebelah otak mereka di suatu waktu. Alasan untuk ini sangat sederhana: jika mereka benar-benar tidur, mereka akan tenggelam. Lihat di dalam cahaya, masuk akal bahwa lumba-lumba tidak tidur nyenyak.

“Ketika Anda menggunakan penelitian pada hewan untuk membandingkan dengan manusia, itu tidak setara,” jelas Durnet.”Kita mungkin memiliki kegunaan tidur REM yang berbeda dibandingkan dengan spesies lain.”

Tanpa memperhatikan mengapa ini terjadi, fakta yang ada bahwa tidur manusia menjadi aneh ketika dibandingkan dengan kerabat terdekat kita. Ini menunjukkan bahwa kita telah berevolusi sehingga butuh tidur yang lebih sedikit.

Jelas sekali, kita tidak pernah bisa mempelajari berapa banyak nenek moyang hominin tidur, karena mereka telah punah. Cara terbaik yang dapat kita lakukan adalah dengan membadingkan diri kita dengan hewan lain yang masih hidup.

Tampaknya bahwa pada suatu titik, otak yang besar milik hominin menjadi penidur yang lebih efesien. Berita buruknya untuk penidur seperti saya bahwa secara genetis mungkin butuh lebih banyak tidur.

Tetapi sepertiga dari hidup kita dihabiskan untuk melalukan sesuatu yang secara pasti tidak sia-sia. Otak kita yang besar membutuhkan waktu jutaan tahun untuk berkembang, jadi cukup adil jika kita memberi penghargaan pada diri kita dengan istirahat yang cukup. (♛b3)

Pos ini dipublikasikan di Artikel dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s